Posisi Hilal Penentu Awal Dzulqa’dah 1447 H

falakiyah.nubojonegoro.or.id – Dzulqa’dah merupakan bulan yang ke-11 dalam urutan penanggalan Hijriah. Bulan ini disebut Dzulqa’dah karena orang-orang Arab dahulu tidak melakukan perang (qu’ud ‘anil qithal) di dalamnya. Masyarakat Jawa biasa menyebut bulan ini dengan nama Selo atau Apit karena terletak diantara dua hari raya. Bulan Dzulqa’dah sendiri merupakan permulaan dari empat bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum), yaitu Dzulqa’dah, Zulhijjah, Muharam dan Rajab. 

Berdasarkan hisab kontemporer dari Astronomical Algorithms karya Jean Meeus, ijtima’ akhir Dzulqa’dah 1445 H terjadi pada tanggal 17 April 2026 pukul 18:51:41 WIB. Dengan demikian tinggi hilal mar’i ketika terbenamnya Matahari pada tanggal 18 April 2026 di bukit Wonocolo, Kec. Kedewan, Kab. Bojonegoro adalah 7° 22′ dan elongasi-nya bernilai 13° 50′.

Hisab kontemporer dengan sumber lain, seperti Almanak Nautika, dan Addurul Aniqu juga menunjukkan hasil yang serupa dengan ijtimak pukul 18:50 WIB hingga 18:54 WIB, tinggi hilal mar’i di atas 7° 21′ dan elongasi di atas 13° 50′ . Sementara untuk hisab tahqiqi dan taqribi sebagai khazanah keilmuan falak di Indonesia, tinggi hilal bernilai 7° hingga 11° di atas ufuk.

Jika mengacu pada kriteria Imkanurrukyat NU dengan tinggi hilal minimal 3° dan elongasi 6,4°, maka hilal saat terbenamnya Matahari tanggal 18 April 2026 di Bojonegoro berada pada posisi yang memungkinkan untuk bisa terlihat. Adapun jika ditinjau dari seluruh wilayah Indonesia, posisi hilal juga sudah berada di atas kriteria sehingga memungkinkan untuk bisa teramati. Bahkan mencapai kriteria Qath’iyur Rukyah NU (QRNU) yaitu elongasi 9,9°. Dengan demikian bulan Dzulqa’dah 1447 H diprediksi akan jatuh pada 19 April 2026.

Kepastian masuknya bulan Dzulqa’dah 1447 H tetap menunggu hasil pelaksanaan rukyatul hilal dan Ikhbar dari Lembaga Falakiyah PBNU.(Ai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *